it's my world, it's my little Diary. It's about me, love sad and some story

Feeds RSS
Feeds RSS
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

WHEN GHOST COME


Sekedar mengenal satu hal, dua hal atau ribuan hal yang tak pasti ujungnya. Mungkin bisa menangis, atau mungkin bisa mati di antara padang rumput yang kejam. Entah, mengapa semuanya terlalu histeris untuk terpikirkan, semuanya terlalu dalam untuk di angankan, dan semuanya terlalu banyak untuk di ciptakan.
Berjalan menelusuri hantaman orang yang mungkin tak akan bisa hidup, mungkin pula kita akan benar-benar mati saat kita tak akan bisa berpegangan. Saat kita berada di persimpangan hidup, akankah kita akan terus bertanya. Mengapa kita bisa seperti ini? Kenapa kita harus berada disini dengan hidup yang tak berpihak dengan kita?.
Mungkin aku bisa melihat, tapi tak sedikit orang memandangku...
Aku bisa mendengar, tapi tak sedikitpun orang mendengarku...

Seberapa penting hidup untuk kehidupan?
Seberapa hebat kematian mampu membuat semua terdiam?
Dan seberapa banyak  tipu daya yang benar-benar tak di harapkan?
Apa semua itu hanya imajinasi?
Semuanya hanya omong kosong?
Tapi kenapa aku menjumpainya?

Menghela nafas pelan-pelan saat aku mendengar dan melihatnya, entah bagaimana rasanya jika semua itu terjadi padaku. Mungkinkah aku benar-benar mati dan tak berkutik sekalipun?
                                                          ***

         
Hanya memandang langit sore hari, meski tak selamanya seperti ini, tapi seenggaknya aku mampu berdiri dan masih bisa tersenyum diantara orang-orang yang entah benar-benar menyayangiku, atau orang yang hanya bersandiwara di depanku. Menjalani hidup sama halnya dengan menjalani lorong waktu yang entah kapan berakhirnya.
          Sosok pemuda berilmu masuk berlahan-lahan dalam satu ruangan, entah apa yang dia jelaskan, apa mereka benar-benar ingin membaginya, atau mungkin hanya sekedar hadir dan bersilah duduk diantara puluhan pasang mata yang mengarah ke arah pemuda tersebut. Duduk dan terus duduk hingga suara bunyi aneh akan berdering keras diantara puluhan ruangan yang berdiri kokoh di tanah ini. Memikirkan hal yang sama sekali tak masuk akal dan terus-menerus terbayangkan. Aku bisa melamun, entah apa yang aku lamunkan, entah bagaimana aku bisa melamunkan hal konyol itu. dan aku berhalusinasi, namun mengapa semuanya tentang kepastian hidup seseorang, antara mati dan hidup seseorang. Aku benar-benar bosan dengan hal itu, kenapa semunya benar-benar terjadi dengan hanya halusinasi konyolku. Kenapa aku bisa merasakan hal itu? kenapa aku bisa mendengarkan hal itu? aku benar-benar muak dengan keadaanku saat ini. Mungkinkah aku bisa menghilangkannya dengan hanya sedetik jari?. Benar-benar aneh untuk terus memikirkannya.
          Sepanjang koridor yang penuh tumpukan daun-daun keringpun saling menyapa langkahku yang terus-menerus berjalan dengan hangatnya. Tak banyak dari ruangan yang tertata rapi di halaman ini adalah ruangan kelas sekolah yang hampir rapuh temboknya. Usia 42 tahun memang tak muda lagi untuk sekolah ini, suasana halaman yang tak terurus, kamar mandi yang hari demi hari berlumutan, dan rerindang pepohanan yang semakin tumbang dan tak berarti hidupnya. Suara sunyi berlahan-lahan mendekat dan terus mendekat hingga semuanya terasa aneh dan tak masuk akal. Sekolah ini berdiri dengan satu orang penjaga  yang tinggal dan berdiam diri di antara keanehan yang sangat tak akan di mengerti semua orang. Semua orang pasti menganggap semua ini hanya omong kosong dan tak akan ada artinya lagi. Memikirkan hal yang tak masuk akal memang sangat menyebalkan dan tak akan ingin sedikitpun mengetahuinya. Aku benci dengan keanehan, dan terkadang aku benci dengan diriku sendiri, kenapa hanya aku yang bisa merasakan kedatangannya, saat aku benar-benar tak mengharap kedatangannya. Bangunan yang berdiri kokoh dan sedikit rapuh ini terkadang merubah suasana saat kenyataan tak bersuara kembali. Hujan dan suasana semakin tak bersahabat, air yang terus menerus jatuh dari dasar, dan petir yang semakin menghantam beberapa kerdil jarum yang tak ada ujungnyapun mulai tak bersimpati kembali. Matakupun seketika mengarah kesalah satu ruangan yang tak ada sedikitpun jalanan yang meneranginya, kembali berhalusinasi dan kembali beranganan tentang kehidupan yang sangat melelahkan. Kenapa kita harus terdiam saat kita tau bahwa seharusnya mereka yang terdiam saat melihat dan mendengar kita berada di sekitarnya. Merasakan hal yang sama dengan hari sebelumnya dan mendengar mereka yang entah bagaimana wujud asli mereka. Aku mendengar, tapi apa mereka bisa mendengarku? Kenyataan ini benar-benar tak masuk akal.
“krakkk” suara pergeseran kayu rapuh pun mulai melihat kedatanganku dan terus menerus mendengarku. Aku bisa gila dengan semua ini!!. Kenapa aku harus takut dengan semua ini? Apa mereka akan membunuhku jika aku takut? Aku hanya tertunduk dan terus menerus mengayunkan kedua kakiku yang agak pucat dan semakin dingin. Tak ada sedikitpun cahaya yang akan menyapaku, tak satupun dan tak akan ada. Aku bergegas merauk ponselku dari saku depan dan berlahan mengambilnya. Aku butuh cahaya dan aku bersikeras menghidupkan ponselku dari genggamanku, entah apa yang terjadi, di luar kenyataan dan aneh bila di rasakan. Tak hidup? Kenapa bisa terjadi?
‘hhhhssssshhh’ suara itu benar-benar menghantamku, dan terus menerus menyapa kehadiranku. Apa mereka terganggu dengan kehadiranku di sini? Aku terus berjalan dan merabah beberapa barang yang berdebu dan tak layak pakai. Tak jauh dari langkah awalku, aku menelusurinya dan terus bersikeras untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Entah bagaimana bisa terjadi, kaca yang benar-benar berada di atasku bisa jatuh seketika dan aku sama sekali tak tau dari mana hal konyol itu bisa terjadi. Aku menjerit karna refleks, aku benar-benar merasa sendiri dan tak ada seorangpun yang akan menghampiriku. Lorong panjang dan mencekam, tak banyak dari ruangan ini bisa di lihat,  “YOU WILL DIE” benar-benar sesak saat aku melihat dengan mata yang semakin membesar tulisan aneh di antara tirai kaca yang akan pecah. “Aaaaaaaaaaaaaa” jeritanku semakin panjang dan terasa sakit saat mengucapkan. Dia akan benar-benar mendatangiku. Apa ini kenyataan? Aku benar-benar melihatnya, duduk bersilah di bangku yang hampir keropos dan mulai menghilang kembali. Aku benar-benar takut dan aku bingung harus bagaimana? Hujan yang terus menerus berdesah kencang, yang tak ingin sedikitpun menghilang menjadi sebuah jeritan saat aku ingin mereka hilang di hadapanku. Aku muak dengan semua ini!. Sesedikit aku kembali ke langkah awalku dan berbalik badan,  terasa terkejut saat makhluk aneh bepostur tak nyata langsung menghampiriku dan saling bertatap arah ke wajahku dan seketika itupun aku tak sadarkan diri. Beberapa jam berlalu tiba-tiba aku bangun dan mulai membuka kedua mataku yang sebenarnya sulit untuk di buka. Sadar ataupun tidak seketika aku sudah sampai di ruang kesehatan sekolah yang nyaman tapi sesekali tak nyaman jika harus lemah dengan keadaan seperti ini.
“Ve, kamu gila apa?” ‘Carisa’ teman satu bangkuku yang mulai bersikeras bertanya tentang hal kekonyolanku, aku terdiam dan terus terdiam tanpa menjawab satupun pertanyaan yang sama sekali tak akan kuharapkan.
“kamu benar-benar gila ve, kamu datang ke tempat serem kayak gitu dan sendiri?”
“siapa yang nolong aku sa?”
“kamu gak tau?”
“Siapa sa?”
“Pak Barto, penjaga sekolah satu-satunya di sekolah ini”
Ooohhh mengela nafas dan tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.
“mana pak barto?”
“masih disana katanya”
“ngapain?”
“mana aku tau, lagian apa enaknya sih jalan sendirian ke tempat kayak gitu, apa kamu belaga lupa apa sama sekali gak inget sih ve? Kak Renata pernah mati di tempat itu cuman karna dia penasaran dengan tempat aneh kayak gitu, apa kamu gak inget sih ve?”
“aku inget car, makanya aku pengen banget ke tempat itu, aku capek dan aku muak dengan semua ini, aku pengen semuanya itu berhenti. aku gak pengen ada yang kesurupan, aku gak pengen ada kejadian mati sia-sia kayak kak Renata, aku benar-benar capek car!”
“iya aku ngerti ve, tapi kamu gak harus datang ke tempat kayak gitu ve, kamu bisa mati! Untung pak barto denger suara teriakanmu”
“aku teriak?” aneh bener-bener aneh, aku sendiri lupa dengan kejadian nyata yang penuh kemuakan.
“kamu sama sekali gak tau?”
Berusaha berdiri tapi cewek gila ini bener-bener ngelarang aku untuk keluar dari situasiku sekarang
“hey, mau kemana lagi kamu ve? Mau kembali kesana lagi?”
“kamu gak pernah tau kalo’ kamu gak pernah nyelidikin apa masalahnya car”
Berusaha mungkin untuk bangun dan menahan carisa melarang, adalah salah satu caraku untuk melawan cewek gila ini. Bergegas mungkin untuk pergi dan mencari salah satu titik dimana itu harus aku cari dan aku lalui. Tak sampai beberapa ruang sebelum dari ruang aneh itu ‘Dion’ cowok tegap yang menghentikan langkahku dan seketika aku menghentikan langkahku.
“Ve, kamu mau ke ruangan itu lagi?” mengangguk dan berusaha mungkin untuk meyakinkan Dion untuk tetap mendukung kemauanku.
“maaf ve, kamu gak boleh dateng ke ruang itu lagi?”
“kamu gila?” gak pikir banyak waktu untuk mempertegas keinginanku, berusaha mungkin aku terobos arah jalanku yang sempat terhalangi Dion, tapi beberapa caraku untuk melawannya bener-benar dapet hasil nihil.
“kamu yang gila ve, kamu bener-bener gak nyesel setelah pingsan beberapa jam yang lalu”
“nyesel? Kenapa mesti nyesel? Kenapa sih semua orang ngelarang? Semua orang terlalu pecundang, kamu juga di” aku mempertegas penjelasanku
“sorry ve, aku emang pecundang, tapi kamu gak mikirin diri kamu sendiri apa? Kamu pingsan dan kamu pengen kesana lagi, kamu bener-bener gila”
“okeh aku gila, puas? Aku cuman cari pak barto di, emang salah apa?”
“pak barto barusan keluar”
“kemana?”
“mana aku tau, pak Barto barusan aja keluar ve”
Berbalik badan dan melanjutkan langkah kecilku dan terus berjalan di antara kepasrahan hidup, jalanku semakin padat dan terus berirama. Kurang lebih 7 menit dari arah dion, aku bener-bener bergegas  untuk sesegera mungkin ke arah pak barto sebagai penjelasan mengapa aku seperti ini, dan bagaimana mestinya kehidupanku mengarah ke salah satu hidup orang lain yang sama sekali tak pernah ku inginkan.
Rumah mungil dan sedikit terurus, meski hanya beberapa perabotan kusam yang tak berarti tertata rapi dan tak berarti.
“vera!” seketika pak barto mengucap satu kata dan mengarah ke arahku dan sesegera mungkin aku menghampiri sebagai akhir langkahku yang terpecahkan.
“pak barto yang nolongin aku?” ucap singkat kata yang menurutku itu penting.
“kamu ngapain disana vera? Bapak tadi itu sempat takut kalau vera tidak bangun lagi, dada bapak rasanya sakit sekali nak!” raut muka pak barto serasa memecahkan suasana yang semakin tegang dan membuat otak makin lama makin tak terkendali.
“maaf pak, tapi apa boleh saya mengetahui sedikit tentang ruangan yang disana pak?” terheran, terheran dan terheran, capciscus aku menanyakan hal penting itu..
“maaf nak, bapak  gak berani bilang” sambil menunduk dan seakan tak ingin di ketahui semua orang..
“plis pak plis, saya butuh sekali jawaban itu pak” duduk dan sesekali tanganku manarik tangan pak barto sambil memohon dengan rasa daya pikiran yang semakin ingin tau.
“lho vera, emang kamu gak masuk kelas?”
“maaf pak, saya butuh sekali jawaban bapak, gak bisa di tunda-tunda lagi pak, saya capek, rasanya  aneh semua pak” gak tau kenapa rasanya emang beneran aneh
“memangnya apa yang kamu rasakan nak vera?” wajah pak barto sudah mulai serius dan sesekali mehelai pundakku dengan agak rasa khawatir dengan apa yang sedang aku rasakan.
“saya sebenernya gak tau apa yang saya rasakan, rasanya tuh pengen ngelakuin hal yang bisa di bilang konyol, jujur sih pak, dulu memang saya gak berani sama sekali, tapi gak tau kenapa saya berasa berani kayak gini, emang ada yang salah dengan saya pak? Atau mungkin bapak bisa menjelaskan itu semua?”
“maaf nak vera, bapak mungkin tidak bisa menjelaskan ini semua”
“jadi bapak sebenernya tau apa yang sedang saya rasakan? Aku mohon pak, bapak bisa menceritakan semuanya ke saya, dan saya janji tidak akan beri tau ke semua orang, saya mohon pak?” bersilah ragu dan terus menerus memohon untuk penjelasan yang sangat misteri untuk pengungkapan semua kejadian hal aneh.
“nak vera bisa jamin semua hal yang akan saya beri tau ke nak vera bisa terjaga rapi?”
“saya jamin pak” mempertegas semua hal dan keyakinanku akan segera memuncak.
“gini ya nak ver! Kamu tau tentang Renata? Kakak kelas kamu dulu yang meninggal disana?”
“iya pak saya ingat itu, kenapa pak?”
“nah itu vera, bapak takutin kamu itu kayak Renata”
“memangnya kak vera kenapa pak?”
rasa heran masih lengket banget dengan suasana detik ini.
“gini nih ver, kalau kamu beneran percaya ya bagus, tapi kalaupun kamu gak percaya juga gak papa, semua orang ngira bapak itu uda mulai gila dan bapak takut apa yang di ucapkan semua orang itu benar, dan yang lebih takut lagi... kalaupun ada yang tanya ke bapak tentang hal itu, semua orang juga akan gila nantinya”
“saya benar-benar bingung apa yang di bicarakan bapak”
“dulu Renata seperti kamu  ver, apa kamu pernah ngalamin sesuatu yang rasanya aneh sama diri kamu sendiri? Entah firasat atau halusinasi?”
“semuanya terjadi berkali-kali pak,dan rasanya itu aneh sekali, saya bisa mendengar apa yang tak akan bisa di dengar semua orang, saat saya merasa sekikiling mulai aneh, semuanya diluar kendali, dan rasanya saya pengen mencari sebab hal itu pak, apa bapak tau apa yang terjadi dengan saya?”
“benar”  satu kata dan mungkin aku agak  mengerti dengan apa yang sedang pak barto ucapkan. Sesekali pak barto mengarahkan kedua mataku dan mulai menginjak ke arah kedua mataku yang serasa ingin terhipnotis.
“benar apa maksutnya pak?”
“apa kamu sebelumnya tau tentang renata?”
“kak renata? Saya tau, tapi sampai saat ini saya belum tau kenapa kak renata seperti itu dan apa yang terjadi dengan kak renata?”
“apa kamu belum pernah melihat renata?”
“belum” pelan dan lembut untuk sebuah singkat jawabku yang mengarah ke pak barto
“apa kamu benar ingin mengetahui semua hal ini?”
Mengangguk dan terus menuju arah ke pak barto
Sebelum beberapa tahun terakhir ini, semuanya memang berubah. Entah itu suasana kelas ataupun keanehan di luar dugaan semua orang, semuanya terjadi berkali-kali tanpa ada yang tau sedikitpun apa penyebabnya. Semua terjadi dengan awal kak Renata sendiri, orang yang membuat semuanya merasa aneh untuk waktu yang terus menerus ini. Aku sedikit berpikir kenapa kak renata melakukan hal ini ke aku dan yang lainnya?. 5 tahun yang lalu kak Renata meninggal tanpa di ketahui semua orang. Kak renata hanya seorang murid yang tak lain hanya murid yang tak punya harapan masa depan sama sekali. Kak renata menjadi gila dan semakin gila hanya karna dia dibesarkan dari keluarga yang sangat berantakan. Setelah kepergian kedua orang tuanya yang cerai secara tiba-tiba tanpa sepengetahuannya dan meninggalkannya tanpa sepengetahuannya pula. Kak renata benar-benar gila saat itu, dia hanya pasrah dan terus menjadi orang yang penuh keputus asaan. Coba deh kamu bayangin, ‘tanpa kabar dan tanpa meninggalkan sesuatu yang pasti’. Aku cuman beranggapan rendah dengan kedua orangtuanya kak renata, bisa di bilang gila tuh orang? Gak sadar kalo’ punya anak?. 5 minggu setelah menempati keadaan yang tak di harapkan sama sekali, kak renata harus termenung dan terus menjadi gila, sebab setelah 5 minggu kepergian orang tuanya yang entah kemana, dia juga harus di kagetkan dengan keadaan neneknya yang meninggal karna sakit. Merasa iba saat mendengarkannya, bisa stres kalaupun aku yang mengalaminya, oh nooooo aku tak mau semuanya terjadi padaku. Hari-hari yang di lewati kak renata memang sulit di jalani bagi remaja masa kini, dia harus mati-matian cari uang sendiri dan hidup sendiri tanpa keluarga yang menghampirinya, entah dimana semua keluarga kak renata, tapi yang pasti mereka tak tau apa yang dialami kak renata, karna memang semua keluarga kak renta berada di luar negeri, dan kak renata tak bisa menghubungi salah satu dari mereka. Buku kontak yang biasanya tertata rapi di samping telepon rumah sekarang sudah bersih tanpa sedikit kertas yang berterbangan. Mereka jauh menghilang, tanpa sedikitpun yang tertinggal. Beberapa hari setelah kepergian nenek kak renata yang selamanya akan pergi dan tak akan kembli, kak renata semakin gila, entah apa yang ada dalam benak kak renata saat itu, dia bunuh diri di tempat yang telah aku lalui tanpa sedikitpun orang yang mengetahuinya, 2 hari setelah meninggal baru di ketahui semua orang di antero sekolah. Bau orang meninggal khas, jadi gak salah kalau semua orang bisa mencium bau tersebut. Ruang kosong yang pernah aku lalui adalah ruang yang dulunya di pakai semua murid untuk latihan dance, tari atau apapun yang berkaitan dengan kesenian. Tetapi karna beberapa murid yang tak berminat dengan kesenian, akhirnya ekskul kesenian di tutup, tinggal ruang yang semakin usang dan berdebu sepeninggalnya. Pak barto menceritakannya kepadaku tanpa berhenti memandangku, pak barto satu-satunya orang yang mengetahui hal itu, sejak sepeninggal kak renata di sana, pak barto terus mencari informasi , entah dari tetangga kak renta  sampai pak barto tak sengaja menemukan buku diary kak renata yang tertinggal di rumah nenek kak renata sepeninggal. Semuanya sejalan dengan apa yang pak barto kemukakan. Dan sejak saat itu pula kejadian aneh sering terjadi di sekolah ini, entah itu kesurupan atau pingsan secara bersamaan. Pak barto menceritakan semuanya, tanpa ragu sedikitpun. Aku heran kenapa sejak sepeninggal kak renata semuanya berubah? Apa semua itu ulah kak renata sendiri? Kenapa dia kejam dengan semua ini? Aku hanya menghela nafas panjang saat pak barto menjawab “ya” singkat kata yang membuat aku semakin kesal dengan yang namanya ‘kak renata’.

“Mungkin dia capek dengan kehidupannya, makanya dia ingin merubah semua orang yang ada di sekolah ini seperti dia” pak barto menjelaskannya.
“tapi kenapa kita yang harus mengalami itu semua pak? Terutama aku yang banyak berhalusinasi tentang hidup dan kematian seseorang, sebetulnya aku juga capek dengan kehidupanku ini, aku mulai berhalusinasi yang entah kenapa bisa terjadi, aku sebetulnya capek pak”
“mungkinkah kamu orang yang di cari renata saat ini?”
“aku? Kenapa harus aku pak?” aku terkejut dan tak menyangka semua hal itu bisa terjadi.
“bapak sama sekali tidak tau kalau masalah itu ve”

Aku terdiam dan sesekali menggerakkan tanganku, aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat itu. mungkin aku hanya bisa mencari hal itu dengan diriku sendiri, tanpa apapun dan itu hanya diriku sendiri. Menghabiskan dengan sebuah fakta sepulang sekolah, mencari dan terus mencari, kenapa kak renata menginginkanku? Kertas putih peninggalan kak renata di sekolah hanya sebuah misteri dan seberkas data diri, dengan seksama aku membacanya berlahan-lahan ‘Renata Andela Rahmatica’ nama yang bagus untuk sebuah pengungkapan kecil namun tak banyak orang menilaiku rendah saat mengutarakan pendapat seseorang. Sampai gak terasa malampun datang, suasana semakin mencekam, aku berlahan-lahan turun dari anak tangga samping perpustakan yang tak banyak dari murid sana menyebutnya tangga setan, banyak peristiwa aneh yang terjadi saat kita melewati tangga itu.
Sesekali aku mendengar hal aneh yang mulai mendekati tubuhku, rasanya ingin teriak tapi serasa mulutku terkunci jika aku harus berteriak payah, aku hanya bisa melihat sekelilingku dengan mengendap-endap, aku mencari titik itu dan berusaha menemukan jika aku tak akan bisa selamat dari sini. Aku bisa melihat seseorang datang disampingku, tapi aku takut melihatnya, aku menutup kedua mataku dan berusaha memejamkan, “aku butuh kamu” sesaat aku mendengar ucapan itu, apa aku benar-benar gila dengan semua ini? Aku tak percaya kenapa hanya aku orang satu-satunya yang bisa mendengar suara itu? suara itu pelan dan halus, tak akan ada orang yang tau dengan suara aneh itu. aku masih memejamkan mataku dan beberapa kali menunduk. Aku serasa mulai bisa membuka mulut tetapi masih menutup kedua mataku. “kenapa kamu harus menggangguku? Tak bisakah kamu tak mengangguku dan semua orang di sekolah ini?” aku mulai berbicara untuk memberanikan diri. “aku capek dengan semua ini! Aku muak dengan semua ini! Tak bisakah kamu menyadari itu? apa kamu bisa mendengarkan hal itu?” suaraku serasa menggertak dan menjadi  keras sekeras kerasnya. aku tak bermaksut seperti itu sebenarnya, tapi aku benar-benar sudah letih dengan kejadian ini, aku hanya ingin semuanya bisa berubah seperti tahun sebelum tahun ke lima dari tahun ini. Aku sudah 3 tahun berada di sekolah ini, dan aku hanya ingin semuanya akan baik-baik saja jika aku mengetahui keganjalan hal ini. aku ingin merubah semuanya, dan aku yakin aku mampu melakukannya, meski aku harus menjatuhkan darahku demi ini semua. sesekali suara itu semakin mendekat dan terus mendekat, kalimat itupun sama dan terus menerus mengucapkan hal itu, aku hanya pasrah jika semua itu harus di bayar dengan darahku sendiri. Aku lebih merasakan kedatangannya, dia mendekat dan semakin mendekat meski aku tak mendengar dia datang, tapi aku bisa merasakan hal itu. Beberapa menit setelah aku merasakan hal itu.................................
Mungkin nyawaku tak akan bisa datang di dunia, aku serasa kaku dengan hal ini, membuat orang panik dengan kebodohanku sendiri. Sebetulnya aku tak percaya dengan hal ini, tapi mereka datang dan aku tak bisa menghindarinya. Aku tak pernah ingin jika aku memiliki peristiwa seperti ini, aku tak pernah ingin jika kelebihanku akan  membuat orang semakin panik dan terus bertanya dengan diriku sendiri. Malam itu juga dan detik setelah itu juga aku tak berada di dunia ini lagi, aku ingin marah saat itu... tapi buat apa? Aku tak berada di dunia ini lagi. Mereka benar-benar ingin mendapatkanku, bukan hal yang mudah memang, tapi aku mengerti dengan keadaan itu, aku benar-benar paham dan terus meyakinkan diriku sendiri untuk terus membela diri.
Semua orang benar-benar menangis dengan kematianku, aku hanya tersenyum saat memandang mereka. Ayah, bunda, kedua kakak laki-lakiku, carisa, pak barto, dion dan semua orang menangisiku. Aku terus tersenyum melihat mereka begitu menyayangiku, beberapa kali ucapan carisa tentang kebodohanku terasa terdengar langsung di telingaku, dan aku melihat mereka..

“aku bisa melihat, tapi tak sedikit orang memandangku”
“Aku bisa mendengar, tapi tak sedikitpun orang mendengarku”

Hanya untaian kata itu yang bisa terucap dalam benakku, aku percaya semua itu sudah takdir dari yang di atas, dan aku bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang yang pernah menyayangiku.
Karna dengan melihat mereka datang di pemakamanku, aku merasa tenang.
Mereka mendoakanku dan terus mengucap sebuah kalimat indah.

Aku sadar dan aku mengerti..
Aku tak pernah tau kapan aku di lahirkan dan kapan aku harus meninggal..
Aku tak tau, dan aku tak pernah mengetahui itu semua..
Mungkin aku pernah berhalusinasi, dan memang semuanya kadang terjadi..
Tapi apakah mungkin kita berasa bodoh dengan hal itu?
Bukankah setiap tumbuh nyawa, akan ada seribu kematian?
Bukankah semua orang akan mati?
Kamu tau, dan kenapa kamu takut dengan semua itu?
Kamu benar-benar bohong dengan diri kamu sendiri..
Kenapa kamu harus membohongin diri kamu sendiri?
Aku yakin semua itu memang takdir..
Kamu tak pernah tau apa yang terjadi nantinya..
Tapi kamu akan memahaminya jika kamu percaya dengan hal itu..

Kak Renata membutuhkanku, mungkin hanya saku yang akan menemaninya...
Setelah kepergianku, suasana sekolah mulai berubah. Tak ada lagi suara aneh dan suasana aneh lagi. Mereka tersenyum setiap harinya, tanpa memikirkan hal aneh kembali. Dan aku mulai bisa tenang untuk detik ini.
_________________________________________________________________________

“Kak Renata berdiri tegak di sampingku, dan tersenyum ke arahku”
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
~end~
arinta dwi swastika ~ 12/12/12

Dari Mama, Untuk Gisel

“Gisel!” serentak suara Vilia terdengar takjub di gendang telingaku, aku tanggap dengan lantang karena kekesalan yang membuat jantungku berdetak kencang. “Apa’an sih vil! Nggak lucu tau” “Ya maaf lah, maklum saja, aku lagi seneng banget nih” tanggapan suara Vilia pun agak menyesal, “Memang ada apa’an  sih?” jawabku cepat “Nggak ada apa-apa sih, tapi rasanya hari ini aku tuh seneng banget” “Dasar! Nggak jelas banget sih!”.
“Sel, ntar pulang sekolah, kamu mau nggak ke rumah Gita?” “ke rumah Gita? Ngapain kesana? Belajar pemrograman!” “ya” jawab Vilia sembari menganggukkan kepalanya. “males banget belajar pemrograman? Mending aku nemenin mamaku yang lagi sakit” “Ayolah, dirumahmu kan ada kak Aldi! Ayo dong Sel! Aku nggak bisa pemrograman sama sekali!” “Kamu pikir aku bisa apa? Udah deh nggak usah banyak mikirin pemrograman! Toh juga kita cewek! Perusahaan tuh pastinya nggak ada yang merluin kita kan! Rata-rata cowok yang di terima di perusahaan Vilia!” “Kenapa sih, pikiranmu masih sama kayak dulu Sel?” “Bukannya gitu Vil! Emang kenyataannya gitu kan!”. Selang beberapa detik bunyi bel sekolah yang seperti bel di kereta api pun terdengar agak keras di seluruh antero sekolah.
            Hentakan kaki pak Bima pun agak terdengar dari luar, karena memang suara sepatu yang beliau kenakan sudah hafal di telinga semua murid di sekolah. “Di tempat duduk, istirahat di tempat grak!” tampak lantang terdengar suara ‘Vian’ Ketua kelas di kelasku, memang sudah rutin sekali kalau ada guru yang mau ngajar di kelas, ketua kelas harus menyiapkan anggotanya terlebih dahulu. “Kepada guru, beri salam!” Vian pun melanjutkan pembicaraannya. “Selamat Pagi pak!” serentak anak-anak pun berkata sekeras mungkin. “Selamat pagi juga!” pak Bima pun langsung menanggapi kita semua. Pelajaranpun mengalir layaknya air yang terjun dari derasnya air terjun di pegunungan, hari ini memang agak panas udaranya, tapi semangat belajar memang harus ada dalam diri kita, aku pun berusaha untuk mencintai semua pelajaran yang agak aku benci. Mama pernah bilang ‘apabila kita membenci suatu pelajaran, maka kita selamanya tidak akan bisa mempelajarinya’, memori otakku masih terbayang-bayang nasehat mama, tapi meskipun begitu, pelajaran pemrograman membuat aku semakin pusing dengan semuanya, jujur aku nggak suka banget sama pelajaran pemrograman. Tak terasa bel sekolah terdengar agak keras, aku pun langsung berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor berwarna merahku yang sengaja aku parkir di tempat parkiran.
            Sesampai di rumahpun badan terasa capek, dan aku putusin untuk tidur sejenak, meski waktu sudah sore banget, tapi menurutku dengan istirahat sejenak, otakku semakin fresh. Tak selang beberapa menitpun suara HP ku terdengar getar, tanda ada sms masuk. Dan ternyata Vilia “Sel! Ke rumah Gita yuk!” “males! Aku capek” singkat balasan yang aku kirim, beberapa detik pun Vilia langsung membalasnya dengan cepat “Sel! Ayo dong!” dengan rasa cuek, aku pun langsung tidur dan tanpa menghiraukan pesan dari Vilia.
                                                            ***     

            Kurang lebih 30 menit lamanya aku bangun dari mimpi-mimpi khayalku, akupun langsung segera turun kebawah untuk melihat mama yang sakit. mama adalah orang yang hebat, karena meskipun mama sakit, tapi mama masih sanggup berdiri, kata mama sih kalau terlalu tidur di kamar rasanya suntuk banget. Sebenarnya sih mama mengidap penyakit yang berbahaya, aku sih sebenarnya takut, kata dokter sih mama perlu istirahat di rumah saja, karena kalau di rumah sakit mama bisa stres, oh ya mama mengidap penyakit leukimia, tiap hari aku pun nggak sanggup kalau mama selalu nyiapin makan  untuk papa,aku dan kak aldi, padahal mama masih sakit. Toh juga kan masih ada ‘bibi Inah’ pembantu di rumahku. Tak berfikir panjang, aku pun akhirnya langsung turun ke bawah “Mama” akupun langsung memeluk mama dengan kasih sayangku, mamapun langsung menyuruhku duduk di ruang makan. “Ma, kan ada bi Inah! Tapi mama kok masih nyiapin makan sih! Ntar sakit gimana?” “kamu lihat sendiri kan kalau mama masih sehat!” mamapun menanggapiku dengan senyumannya, akupun balas senyum ke mama, padahal di hati kecilku aku kasihan sama mama. Tak terasa suasana berkumpul dengan keluarga yang lengkap itu menyenangkan, kami asyik berbincang satu sama lain. Kak aldi cerita tentang cewek barunya yang ada di kampus, papa asyik cerita kalau kantor di perusahaan ayah mau ada acara pergantian manager, aku pun nggak kalah sama yang lainnya, akupun cerita tentang Vilia yang menyebalkan itu, kak Aldi pun tambah tertawa dengan cerita konyolku, emang dasar menyebalkan kan!, masak tiap hari ngomongin pemrograman! Udah tau kalau aku tuh nggak suka sama pemrograman, masih saja sibuk bicarain itu, menyebalkan kan!.
Tapi mama pun langsung menanggapi ceritaku dengan sekejap “Maksud Vilia itu baik kok sayang! Vilia tuh cuman pengen kamu  jadi orang yang sukses” “tapi aku memang tidak bisa ma! Rata-rata perusahaan sekarang nggak memerlukan cewek lagi buat seorang programmer kan ma!” tampangku pun agak kesal karena mama lebih memilih Vilia ketimbang aku! “Ada kok programmer cewek di kantor papa!” papa pun langsung menyahut pembicaraanku “tapi sedikit!” serentak akupun membalasnya “banyak kok, kalau kamu yang mempeloporinya sayang! Ntar deh bakalan banyak cewek programmer!” suara lembut mama pun menjawab dengan sabar, dalam hati kecilku aku pengen banget minta maaf ke mama, ‘maafin aku ma, tadi aku bentak-bentak mama yang lagi sakit’.
                                                            ***
            Keesokan harinya aku putuskan untuk ikut belajar bareng sama Vilia ke rumah ‘Gita’ anak satu-satunya yang pintar pemrograman di kelas. Dan sejak saat itu aku merasa bersalah sama mama, dan sejak saat itu pulalah aku putuskan untuk  belajar bareng ke rumah Gita setiap habis pulang sekolah. Buku pemrograman yang tebal-tebalpun mulai lengkap di kamarku, dan sedikit demi sedikitpun aku menyukai pemrograman. Sekarang waktuku pun memang padat, bisa-bisa sampai malampun aku baru pulang, biasanya sih aku dan mama duduk-duduk santai di taman belakang rumahku, biasanya juga sih aku yang nemenin mama waktu mama sendiri di taman, dan biasanya juga aku bercanda sama mama, tapi sekarang agak sulit banget. Dan sekarang tampaknya aku nggak ngelihat ada siapa-siapa di taman belakang, ku arahkan mataku dan sembari duduk santai di taman belakang, aku terbayang-bayang saat aku masih bisa bercanda di sore hari sama mama, tapi sekarang rasanya sulit banget, kadang rasanya aku sedih ngelihat mama sendiri di taman.
                                                            ***
            Dua hari setelah aku merenung, bu Rita mendaftarkan kami bertiga dalam perlombaan IT Nasional yang di ikuti banyak peserta dari berbagai daerah. Aku,Vilia dan Gita pun agak terkejut mendengarnya. Dan untuk itu, Aku sekarang lebih banyak tidur di rumah Gita ketimbang pulang ke rumah, mama juga sudah tau kok tentang perlombaan IT yang akan aku ikuti, jadi mama juga mengizinkanku.
            ‘Rabu,3 Oktober 2011’ waktu perlombaan kurang 2 hari lagi, Aku,Vilia dan Gita berniat untuk belajar ke rumah ‘bu Rita’ Guru pemrograman  di sekolahku. Kami berempat pun langsung sharing-sharing tentang pemrograman, jadi kalau seandainya Gita nggak bisa ngerjain programnya, Gita langsung tanya ke bu Rita. Waktu pun berjalan dengan cukup panjang, tepat pukul 18.30 tiba-tiba Hpku pun bergetar, dan ternyata kak Aldi telfon, aku pun mengangkat telfon dengan santainya “Ada apa kak telfon! Tumben banget!” jawabku setelah memencet tompol hijau di scren HP, “Sel!” “Ada apa kak! Nggak biasa-biasanya kakak kayak gini, ada apa’an sih kak!” aku pun serasa agak cemas, “Mama Sel!” jantungkupun langsung berdetak kencang setelah kak Aldi melafalkan kata mama “Mama kenapa kak!” aku pun spontan langsung menjawabnya “Mama di Rumah Sakit Harapan Bunda Sel!” “Apa?” setelah mendengar jawaban dari kak Aldi, aku pun langsung pergi ke Rumah sakit tanpa menghiraukan Vilia,Gita dan bu Rita, tetesan air matapun langsung berdesir kencang, dadaku pun langsung sesak memikirkan mama yang sedang di rumah sakit. Setibanya di Rumah Sakit, aku pun langsung masuk ke kamar UGD, tapi sesaat akan membuka pintu kamar UGD papa langsung menahan tanganku “Sel, sebaiknya kita tunggu di luar saja ya!” aku pun langsung memeluk papa dengan seerat-eratnya “Pa! Mama gimana? Aku takut!” “Mama bakalan baik-baik saja kalau kamu tenang Sel! Percayalah sama papa!” “Tapi pa! Ini semua karna aku! Andai saja aku nggak ndengerin kata Vilia untuk ikutan belajar pemrograman dan ngikutin lomba IT, mama nggak mungkin kayak gini Pa!” aku pun menangis sejadi-jadinya, air mata pun juga tidak bisa di tahan lagi, rasanya aku  pengen menggantikan  posisi mama di kamar UGD, ini salahku! Aku pun terus merasa bersalah. “Ini bukan salahmu Sel!” Papa pun sembari nenangin dan membelai rambutku dengan tenang. “Tapi pa! Kalau saja aku nemenin mama terus, mama nggak bakalan kayak gini, mama tuh kesepian pa! Biasanya aku tuh yang nemanin mama! Tapi semenjak aku belajar pemrograman dan ikut lomba IT, mama lebih sering sendiri dan kesepian pa! Ini semua salahku!” aku pun terus menyalahkan diriku. Kak Aldipun langsung memelukku juga, papa pun langsung melepaskan pelukannya dan sekarang aku di pelukan kak Aldi. “Kakak yang salah sel! Kakak lebih asyik main sama temen kakak ketimbang nemenin mama! Kakak nggak sadar kalau mama kesepian, maafin kakak ya?” “kakak?” akupun langsung hening sejenak dan langsung memeluk kak Aldi dengan sekencang-kencangnya. Selang beberapa menit dokter langsung keluar dari kamar UGD, wajah dokter agak pucat dan serentak... “Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi apa daya bu Rani memang tidak bisa di selamatkan” spontan air mata yang mengalir pun sekejap langsung mengalir dengan cepat, tak ambil banyak waktu aku langsung masuk ke kamar UGD, tampak wajah mama yang sudah pucat dan berwarna putih, aku pun langsung memeluk mama dan menangis sejadi-jadinya, “aku yang salah ma! Mama tolong bangun! Aku sayang mama! Ma, bangun ma!” kak Aldi pun memelukku dan sembari agak menangis, rasanya aku pengen nyusul mama ke sana.
            Tepat pukul 19.23 mama meninggal dan langsung di makamkan malam itu juga. Banyak orang yang datang untuk turut berbela sungkawa. Tampak Vilia, Gita dan bu Rita juga hadir. “Sel!” Viliapun memanggilku, serentak aku kesal ke Vilia “Kamu masih sempat kesini Vil? Kamu seneng ngelihat mamaku meninggal? Andai saja kamu nggak nyuruh aku belajar pemrograman! Nggak bakal semuanya terjadi seperti ini! Aku benci kamu Vil! Benci banget!” aku pun langsung berlari dan masuk kamar secepatnya. Vilia pun mengejarku sembari merasa bersalah, pintu kamarku pun terkunci, Viliapun menggedor-gedor pintu kamarku, aku sama sekali tak menghiraukannya. “Sel! Maaf sel! Aku nggak tau kalau semuanya bakal seperti ini!” “pergi kamu Vil! Aku benci kamu! Aku nyesel temenan sama kamu!” aku pun langsung membuang buku-buku tebal yang ada di rak kamar “Aku benci IT, aku benci pemrograman” kata-kataku pun terlontar begitu saja, Viliapun tampaknya sudah pulang, aku pun tak terasa tidur lenyap dalam mimpi bertemu mama di alam jauh.
            ‘Kamis,4 Oktober 2011’ Pagi ini terasa sepi, dan aku baru sadar apa yang di alami mama sekarang sama sepertiku, rasanya aku kesepian banget, beberapa menit kemudian kak Aldi masuk kamarku. “Sel! Kamu nggak sekolah?” “kayaknya aku lagi malas ke sekolah kak! Boleh ya aku bolos sekali!” “Ya sudah, kakak azinin, tapi nggak usah sedih gitu dong, kakak masih ada kok! Kakak bakalan nemenin kamu kemana kamu pergi, kakak janji kok!” air mataku pun langsung terjatuh, kak Aldi mengusap berlahan-lahan “Kok nangis? Kakak kan di sini, jadi kamu nggak bakalan kesepian lagi!” “Kakak!” segera mungkin aku memeluk kak Aldi.
            ‘Jum’at,5 Oktober 2011’ Aku putuskan untuk masuk sekolah, saat akan membuka pintu rumah, tampak Vilia, Gita dan bu Rita di teras depan rumah. “Ngapain ke rumahku? Sudah aku bilangin kalau aku tuh nggak mau ngelihat mukamu lagi Vil!” “tapi Sel! Sekarang kita tuh mau ikut lomba IT Nasional” “Kalian saja sendiri yang ikut, sudah aku bilangin aku nggak mau ikutan, apa kamu lupa kalau mamaku meninggal gara-gara aku ikutan lomba IT, kamu lupa?” “Maaf Sel! Aku minta maaf banget! Tapi aku mohon, kita nggak bakalan bisa ikut tanpa kamu Sel!” “Ya nggak usah ikutlah! Gitu aja repot!” “Sel! Ibu mohon, ibu minta maaf sekali dengan semua ini, tapi ibu mohon dengan sangat, kamu bisa mengikuti lomba ini” bu Rita pun langsung berarah muka ke aku, tak selang beberapa menit kak Aldi pun keluar. “Ada apa Sel?” “Ini nih, sudah aku bilangin kalau aku tuh nggak mau ikut lomba IT, masih tetep aja maksa” “Sel! Maaf kakak lupa ngasih tau ke kamu, kalau mama pernah bilang ke kakak, kalau seumpama kamu jadi ikut lomba, mama titip sesuatu untuk kamu” kak Aldi pun langsung menatap mataku dan memegang pundakku “Apa kak?” “kakak nggak bisa ngasih tau, sebelum kamu jadi ikut lomba itu” “Sel! Kita butuh kamu” serentak Gita langsung mengucapkannya “tapi kak!” mataku tertuju ke arah kak Aldi. Kak Aldi pun membalas dengan senyuman, dan akhirnya aku putusin ikut dan menganggukkan kepalaku, seketika Vilia,Gita dan bu Rita tersenyum, nggak nyari banyak waktu, kita pun langsung berangkat ke tempat perlombaan, kak Aldi juga ikut.
                                                            ***

            Tepat pukul 07.00, dan tepat juga kami sampai, bergegaslah kami memasuki ruangan perlombaan. Waktu di sediakan cuman 3 jam untuk membuat program yang sudah di tentukan panitia. Waktu pun berjalan dengan cepatnya. Tepat 3 jam berlalu, akhirnya semua projek harus di kumpulkan, aku berharap bahwa aku bisa memenangkannya, kami pun menunggu dengan wajah cemas. Setelah 2 jam lamanya kita menunggu, akhirnya panitia mengumumkannya. Dengan ucapan tersendat-sendat panitia mengumumkannya.... juara 3 di peroleh dengan skor 2784 point dan pemenangnya adalah Jeremy,Femi dan Tiara. Tampak wajah Vilia pun cemas  seketika. Panitia pun kembali mengumumkan, “juara 2 dengan skor 2881 di raih oleh Gisel, Vilia dan Gita”. Serentak aku pun menjerit sekencang-kencangnya. Bersyukur banget aku, ya Tuhan terima kasih untuk hari ini, semoga mama di sana senang dengan apa yang aku peroleh, meski bukan juara satu tapi aku bisa juara dua, “Selamat ya Sel!” kak Aldi langsung memberi ucapan selamat padaku, aku seneng banget hari ini. “Kalau kamu nggak ada di sini, kita nggak bakalan bisa menang kayak gini Sel!” Vilia berbisik sebentar ke arahku “Maafin aku ya Vil! Memang seharusnya aku nggak bersikap seperti itu, maafin aku ya!” akupun langsung memeluk Vilia “Maafin aku juga ya!” aku pun langsung menganggukkan kepalaku dan berkata “ya”.Panitiapun langsung melanjutkan lagi pengumumannya, dan untuk juara satu dengan perolehan skor 2003 point adalah...Nada panitiapun agak menegangkan, tapi sekarang nggak ada lagi ketegangan di diriku karena sekarang aku bersyukur banget sudah dapet juara 2. “Juara satu adalah Lily, Cakra dan Aldo, dan bagi peserta yang mendapatkan juara, panitia juga akan memberikan hadiah spesial berupa penempatan pekerjaan di salah satu perusahaan elit di jakarta” panitiapun seketika lantang mengucapkannya.“Tuhkan kata siapa cewek nggak bisa masuk di perusahaan! Buktinya kamu sekarang bisa kan!” kak Aldipun langsung menyahut seketika. “Kakak?”. Nggak tau kenapa rasanya aku bersalah banget sama papa,kak Aldi terutama sama mama juga ‘ma, kalaupun mama ada di sini, aku bakalan minta maaf sama mama, ternyata apa yang mama omongin itu memang kenyataan, ma aku minta maaf ma!’ seketika air mataku tak bisa di tahan lagi, kalaupun ada satu permintaan yang bisa di kabulkan, aku cuman  pengen mama ada di sampingku, tapi aku sadar nggak mungkin mama hadir lagi di sampingku, aku yakin mama juga bahagia disana.
            Sepulang dari perlombaan, aku langsung pulang ke rumah, tampak ayah berdiri dan membawa bunga mawar ke arahku, “Selamat ya sayang! Mama di sana pasti senang kamu dapat juara” “Makasih ya pa!” “Sel! Ini kado dari mama” kak Aldi pun menyodorkan tangannya dan memberikan kotak kecil ke arahku, seketika aku pun langsung membukanya,dan ternyata kalung emas bertuliskan Gisel yang aku dapat, “Makasih ma! Aku seneng banget, kalungnya bagus banget, aku suka ma!” aku berangan-angan mama bisa dengar kata yang aku ucapin barusan, “Sel, nanti makan malam di kafe mufky ya!” bisik papa ke arahku “Beneran pa?” papa pun langsung menganggukkan kepalanya “Ya sudah kamu istirahat, biar nanti kamu bisa pergi” “Baik pa!” aku langsung bergegas menuju kamar.
                                                            ***

            Tepat pukul 19.00 kami berangkat ke kafe mufky bersama-sama. “Pa, tapi rasanya ada yang ganjil deh! Sayang ya pa, nggak ada mama sekarang!” “Jangan gitu dong sayang, mama masih di hati kita” aku pun tersenyum seketika. Saat itu juga aku ngerasa kalau mama itu masih ada, masih di hatiku, kak Aldi dan papa pun sekarang lebih sayang aku, ada Vilia juga yang masih jadi teman baikku, oh tuhan aku bersyukur sekali karena masih ada orang terdekatku yang masih menyayangiku. Kata hatikupun berangan seketika, dan semenjak saat itulah aku ngerasa bahwa aku masih beruntung punya kak Aldi,papa dan Vilia yang sayang sama aku. Dan semuanya itu berkat mama, Mama membuat aku serasa memahami arti kehidupan ‘terima kasih ma! Mama inspirasi hidupku’.
         Hidup itu memang akan berputar dan tak akan selamaya kita diam di suasana yang sama, Tuhan pasti menghendaki semuanya, dan yakinlah Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa kita lewati, maka dari itu bersyukur itu membuat hati terasa tenang. Dan menurutku hidup  itu seperti air yang mengalir, kadang  air itu terasa tenang, kadang juga air itu terasa deras dan menghanyutkan. Sama halnya dengan kita, kadang hidup itu terasa bahagia, kadang juga hidup itu terasa kejam, tapi pada dasarnya semua itu akan indah kalau kita bisa menerimanya J.
                                                            ***

bukan dia,tapi aku

                                             Bukan Dia, tapi Aku

“Dis, lo ngapain sih mikirin Eza lagi?? Udah gue bilang berapa kali kalo Eza udah nggak peduli lagi ama elo!!”kata Egi setengah membentak.
Egi memang sudah mulai bosan dengan sikap Disa, Disa yang selalu berharap bahwa Eza, mantan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya kembali lagi ke pelukannya. Entahlah, Egi selalu merasakan ada api yang berkobar dalam dadanya saat Disa kembali mengingat dan membicarakan Eza. Egi memang pantas marah, ia sudah terlalu sering melihat tangis dan kesedihan Disa karena seorang bernama Eza itu. Mungkin, Disa hanya menganggap Egi sebagai sahabat sejak kecil. Tapi lain halnya dengan Egi yang memiliki perasaan yang lebih terhadap Disa. Sayangnya, Disa seperti terbutakan oleh sosok Eza yang tampan tanpa satu cacat fisik pun. Ia tak pernah menyadari perasaan Egi yang sesungguhnya.
Disa terus terdiam di atas tempat tidurnya. Ia terus memeluk boneka teddy bear pemberian Eza saat ulangtahunnya yang ke-17 sambil tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur. Perlahan air mulai mengalir dan membentuk anak sungai di kedua pipi tirusnya. Matanya terlihat sembam karena semalaman menangis.
“Maaf Dis, gue nggak bermaksud buat marahin lo, tapi gue nggak bisa liat lo kayak gini terus-terusan gara-gara Eza, lo terus mikirin Eza.. tiap hari, malem lo nangisin dia, tapi lo pikir dong Dis, apa Eza juga mikirin lo?apa dia sekarang peduli kalo lo lagi sakit?”
“Stop!! Please Gi, jangan mojokin gue terus kayak gini..lo tau kan gue sayang banget ama Eza, meskipun Eza udah nggak peduli lagi ama gue, tapi gue tetep nggak bisa lupain dia..”
Egi langsung meraih kepala Disa dan menyandarkan pada bahunya.
“Sstt..gue tau, lo emang sayang ama Eza, sayang banget..tapi gue nggak tega liat sahabat gue sedih terus-terusan, apalagi Eza ninggalin lo dengan alasan yang nggak jelas..”
“Iya Gi, makasih ya, selama ini lo udah care banget ama gue, cuma elo sahabat yang selalu peduli ama gue,”kata Disa sambil meraih pinggang Egi.
“Seandainya lo tau Dis, hati gue selalu sakit tiap lo nyebut Eza..dan gue selalu berharap posisi Eza bisa gue rebut, tapi semua ini rasanya nggak mungkin..”keluh Egi dalam hati.
“Dan gue udah  janji ama diri gue sendiri Dis, gue nggak akan biarin satu orangpun nyakitin lo, meskipun dia saudara gue sendiri, gue janji bakal slalu buat lo bahagia..meskipun hati gue bakal sakit nanti,”janji Egi dalam hati.
***
“Za, maksud lo apaan sih mutusin Disa gitu aja, lo tau kan Disa sayang banget ama lo?”
Egi langsung menodong Eza dengan pertanyaan saat Eza keluar dari kamarnya yang berada tepat di depan kamar Egi.
“Bukan urusan lo!!”kata Eza sambil mendorong tubuh Egi yang tidak terlalu berisi itu ke dinding.
“Ternyata lo emang nggak pernah berubah, lo tetep Eza yang dulu, yang suka bertindak seenaknya dan sering nyakitin cewek.”
“Heh, jaga ya mulut lo!!lo nggak tau yang sebenarnya terjadi!!”
Eza langsung menarik baju Egi. Perbedaan bentuk tubuh mereka yang terlalu jauh membuat Egi tak berdaya menahan kepalan tangan Eza yang mulai menuju wajahnya.
“Oke, kalo gitu kasih tau gue yang sebenarnya kalo lo emang masih nganggep gue abang lo,”kata Egi tenang.
Ya, Egi memang kakak Eza. Mungkin lebih tepatnya kakak angkat. Bukan Egi yang diadopsi oleh orangtuanya, melainkan Eza, Eza yang diasuh orangtua Egi sejak masih bayi karena orangtua Eza telah meninggalkannya di panti asuhan, entah kemana orangtuanya Eza pun juga tak tahu.
Perlahan Eza melepas tangannya dari baju Egi.
“Gue sering ngeluh dan nanya ama diri gue sendiri, kenapa sih papa selalu mentingin gue dan sayang ama gue lebih daripada elo, padahal gue kan cuma anak angkat, sedangkan elo anak kandungnya..”
“Kenapa jadi ngomongin papa?gue nanya ama lo kenapa lo mutusin Disa?”
Egi mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Karena gara-gara itu, gue harus pergi ke Harvard setelah lulus nanti, ngerti lo!!”
“Harvard??papa nyuruh Eza pergi ke Harvard?papa kan tau selama ini gue pengen banget kuliah di Harvard, dan gue yakin gue mampu, sedangkan Eza?dia nggak punya kemampuan apa-apa dalam pelajaran, kenapa??”protes Egi dalam hati.
“Gue nggak tega liat Disa nangis saat kepergian gue nanti..”
“Tapi lo sekarang malah bikin dia nangis tiap hari..”
“Mata Disa Gi, gue nggak tega liat mata teduh itu nangis di hadapan gue, gue nggak tau kenapa gue slalu lemah tiap liat matanya..”
“Sebenernya, itu juga yang gue rasain tiap liat mata Disa, jauh sebelum lo kenal Disa..”gumam Egi dalam hati.
“Lo tau nggak?mata indah yang teduh itu sekarang udah ilang karena air mata yang terus mengalir..dan air mata itu keluar gara-gara lo..”kata Egi dengan sorot matanya yang tajam.
“Iya gue tau, tapi gue harus gimana? Gue nggak mau pergi ke Harvard Gi, gue mau tetep disini..di samping Disa, selalu jagain dan nemenin dia, tapi gue juga nggak bisa nolak permintaan papa, gue nggak tau harus kayak gimana, gue selalu nggak bisa nolak permintaan papa..”
“Tiap gue pengen nolak permintaan papa, dia pasti langsung bilang gimana dia ngambil gue dari panti asuhan dan besarin gue ampe sekarang..”tambah Eza.
“Papa sayang ama elo karna bagi dia, elo itu keberuntungannya..semenjak lo ada di rumah ini, bisnis papa jadi lancar..sedangkan gue cuman dianggep sampah dan bawa sial, karena tiap ada gue, papa selalu sial..”kenang Egi sedih.
Tak adil memang bagi Egi untuk menerima kenyataan bahwa ia yang adalah anak kandung papanya tak pernah dianggap dan slalu di remehkan. Sedangkan Eza yang hanya anak angkat selalu diperlakukan lebih, apalagi orang yang sangat ia cintai juga sangat mencintai Eza. Eza, Eza, dan Eza… selalu saja ada Eza di mata setiap orang. Eza yang tampan dengan tubuh layaknya model dan tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia selalu menutupi segala kelebihan Egi. Ia selalu merutuki dirinya sendiri secara diam-diam di dalam kamarnya. Tak ada yang tau seberapa kecewanya Egi, karena ia tak pernah memperlihatkannya pada orang lain. Ia tak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Disa.
“Lo harus ngomong yang sejujurnya sama Disa, gue yakin Disa pasti ngerti..”nasihat Egi dengan sedikit senyum yang terulas pada bibir merah tipisnya.
Senyum yang sesungguhnya menyakitkan bagi Egi. Munafik. Itulah kata yang terucap dalam diri Egi. Ia selalu ingin menjadi sosok kakak yang baik, berusaha bersikap dewasa dan tabah. Padahal sebenarnya ia rapuh, dan tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang. Hanya di dalam hati ia beani merutuk, mencaci dan mengeluh dengan semua ketidakadilan hidupnya.
***
“Kenapa sih kamu nggak bilang yang sejujurnya sama aku? Aku bener-bener bingung Za, aku kira kamu udah nggak sayang lagi ama aku, aku bener-bener kehilangan kamu.. jangan kayak gitu lagi yah?”kata Disa yang tengah berada dalam dekapan Eza.
“Iya, aku janji nggak akan bikin kamu nangis lagi.. maafin aku yah..”kata Eza yang sedari tadi tak berhenti mengusap rambut lurus sepunggung Disa.
Eza telah menceritakan semua yang telah terjadi. Dan ia tidak berusaha untuk protes kepada papanya, karena percuma saja. Mau tidak mau ia harus tetap pergi ke Harvard. Beruntunglah, Disa bukanlah orang yang manja dan banyak menuntut. Dengan Eza menceritakan hal yang sebenarnya saja ia sudah merasa senang.
“Kamu janji yah, nggak akan lupain aku kalau udah di Harvard nanti..”
“Iya, aku janji.. aku akan selalu sayang ama Disa, dan nggak akan pernah lupain kamu sayang..”
Senyum Disa yang sekian lama hilang kini pun mengembang kembali. Wajahnya kian merona seperti saat pertama kali ia bertemu Eza. Eza lalu mengecup mesra kening Disa.
Sementara dari kejauhan, Egi terus memperhatikan mereka berdua yang sedang duduk di sebuah bangku di halaman belakang rumah Disa. Terselip rasa bahagia di hati Egi, meski sesungguhnya hatinya sakit melihat kebersamaan mereka.
“Seandainya aku ini orang jahat, aku nggak akan biarin kamu balikan lagi ama Eza, dan aku akan manfaatin saat-saat kamu nggak bersama Eza, agar kamu jadi milikku. Tapi sayang, aku nggak bisa sejahat itu sama kamu Dis, memang cuma Eza yang bisa buat kamu bahagia..Dan aku rela nyimpen rasa ini demi kebahagiaan kamu, meski hati ini bakal sakit. Meskipun sebenarnya yang tulus mencintai kamu dari dulu itu bukan dia, tapi aku..”
***
Image via weheartit.com